Ingat Urgensi Ikhlas

Bismillah.

Salah satu pelajaran paling penting dalam kitab hadits Arba’in Nawawiyah adalah wajibnya kita menjaga keikhlasan dalam beramal. Hadits pertama yang dibawakan oleh Imam an-Nawawi rahimahullah dari Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya amal-amal itu dinilai dengan niatnya…” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ikhlas terletak di dalam hati dan ia menjadi syarat diterimanya amalan. Oleh sebab itu para ulama memperingatkan dari bahaya riya’/mencari pujian dengan amal salih. Allah berfirman (yang artinya), “Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya hendaklah dia beramal salih dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apapun.” (al-Kahfi : 110)

Para ulama menerangkan bahwa ‘amal salih’ adalah yang dituntunkan oleh Rasul, sedangkan ‘tidak mempersekutukan’ artinya amal itu harus ikhlas, bersih dari riya’ dan syirik. Sehingga bagusnya amalan tidak diukur dengan banyak atau besarnya, tetapi ditentukan sejauh mana ia ikhlas karena Allah dan sejauh mana ia mencocoki dengan Sunnah/tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sebagian ulama salaf berkata, “Betapa banyak amal yang kecil menjadi besar karena niatnya. Dan betapa banyak amal yang besar menjadi kecil juga karena niatnya.” Sebagian mereka juga mengatakan, “Tidaklah aku berjuang dengan sebuah perjuangan yang lebih berat daripada perjuangan untuk meraih keikhlasan.”

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa bukanlah perkara yang paling berat melakukan suatu amalan, tetapi yang paling berat adalah menjaga amalan itu dari hal-hal yang merusaknya. Diantara perkara yang merusak amal adalah riya’ dan ujub. Keduanya termasuk bentuk syirik kepada Allah… Wal ‘iyadzu billaah...

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah di dalam Kitab Tauhid-nya juga mengingatkan tentang wajibnya berdakwah itu mengajak menuju Allah dengan penuh keikhlasan. Sebab banyak orang yang berdakwah ternyata dia lebih mengajak orang kepada diri dan kepentingannya, bukan kepada Allah…

Keikhlasan merupakan sebab utama yang membuat seorang bernama Uwais al-Qarani rahimahullah mendapatkan gelar sebagai tabi’in yang paling baik. Kualitas keikhlasan pula yang menjadikan Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu’anhu mengungguli para sahabat yang lain.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada fisik atau harta kalian. Akan tetapi Allah melihat kepada hati dan amal kalian.” (HR. Muslim). Para ulama menjelaskan bahwa baiknya hati adalah dengan baiknya amalan, sedangkan baiknya amalan adalah dengan baiknya niat.

Kita melihat Imam al-Bukhari rahimahullah pun telah meletakkan hadits niat -hadits pertama dari Arba’in di atas- di awal kitab Sahihnya. Hal ini pun menunjukkan betapa pentingnya ikhlas bagi para pencari ilmu agama. Tentu, kita ingat ada sebagian orang yang pintar membaca al-Qur’an dan mengajarkan ilmu tetapi menjadi bahan bakar api neraka gara-gara mereka tidak ikhlas dalam mengamalkannya.

Karena besarnya kedudukan ikhlas inilah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengajarkan kepada kita untuk banyak-banyak berdoa kepada Allah agar diberi keteguhan hati di atas Islam. “Ya Allah Dzat Yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu…” Teguhnya hati seorang hamba tidak akan terwujud kecuali dengan keikhlasan dan kejujuran. Dengan ikhlas seorang hamba akan terlepas dari syirik, dan dengan kejujuran ia akan terbebas dari kemunafikan.

Pada hari kiamat pun tidak ada yang berbahagia menghadap Allah kecuali dengan membawa hati yang selamat. Allah berfirman (yang artinya), “Pada hari itu (kiamat) tidaklah bermanfaat harta dan keturunan kecuali bagi orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat.” (asy-Syu’ara’ : 88-89). Diantara ulama tafsir menjelaskan bahwa hati yang selamat adalah hati kaum beriman; sebab hati orang munafik itu sakit. Disebutkan bahwa, “Di dalam hati mereka terdapat penyakit” yaitu berupa keragu-raguan/syakk.

Tidak kurang 17 kali dalam sehari kita membaca atau mendengar kalimat iyyaka na’budu’ hanya kepada-Mu ya Allah kami beribadah. Maka ini adalah kalimat yang mengandung ajaran ikhlas. Mengikhlaskan atau memurnikan ibadah kepada Allah semata dan meninggalkan segala bentuk sesembahan yang lain. Inilah hak Allah atas para hamba. Menunaikan hak Allah ini merupakan bentuk keadilan yang paling besar, sementara menelantarkan hak ini -yaitu dengan menujukan ibadah kepada selain-Nya- merupakan kezaliman yang paling berat…

Allah berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah mereka diperintahkan melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan agama untuk-Nya dengan hanif/bertauhid…” (al-Bayyinah : 5). Para ulama menjelaskan bahwa orang yang hanif adalah yang menghadapkan hatinya kepada Allah dan berpaling dari segala bentuk sesembahan selain-Nya. Artinya, orang yang hanif adalah orang yang ikhlas.

Semoga sedikit catatan ini bermanfaat bagi kami dan segenap pembaca. Wallahul musta’aan.

Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *